Subscribe:Posts Comments

You Are Here: Home » Mobile Phone, Uncategorized » Memanjakan Pelanggan Seluler agar Tak Pindah ke Lain Hati

Industri seluler tetap tumbuh kendati persaingan tetap alot. Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) meramalkan, pertumbuhan industri seluler tahun depan sebesar 10%. Triknya, tak lagi perang tarif tapi memuaskan pelanggan.

Seperti ramalan KONTAN tahun lalu, di 2009 ini bakal ada operator yang mengibarkan bendera putih (Edisi Khusus Desember 2008). Operator itu adalah PT Mobile-8 yang jatuh ke pelukan Smart Telecom. Keduanya merupakan perusahaan seluler berbasis teknologi CDMA.

Bagaimana dengan tahun ini? Kalau bicara data, hingga kuartal tiga 2009, jumlah pelanggan telekomunikasi baik seluler, fixed wireless access (FWA), maupun telepon tetap mencapai 190 juta. Jumlah pelanggan ini tumbuh 32,8% bila dibandingkan periode sama tahun lalu yang mencapai 143 juta. Selain peningkatan pelanggan, pendapatan rata-rata per pelanggan atau average revenue per user (ARPU) juga naik 8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp 38.000.

Tanpa perang tarif

Naga-naganya keceriaan industri bakal berlanjut tahun depan. Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) yakin, industri telekomunikasi terus berkembang. “Target pertumbuhan 10%,” kata Ketua ATSI Sarwoto Atmosutarno.

Tahun depan, para operator besar tak lagi tertarik memainkan rategi perang harga. Ini lantaran para pelaku industri mulai menyadari, perang tarif justru menjadi bumerang.

Selain itu, Sarwoto mengklaim, tarif telepon seluler di Indonesia sudah termasuk yang termurah di dunia. “Sekarang sudah sekitar 0,85 sen dollar AS,” katanya.

Karena itu, operator yang sudah mapan seperti Telkomsel, XL, dan Indosat lebih mengutamakan memberikan pelayanan yang memuaskan pada pelanggan. Ini agar pelanggan tidak pindah ke lain hati. “Kami akan menawarkan keragaman fitur,” kata juru bicara XL Axiata Febriati Nadira.

Tapi, ini bukan berarti perang tarif hilang sama sekali. Febriati mengatakan, operator kecil akan tetap agresif melakukan perang harga demi membetot minat konsumen.

Dengan persaingan yang semakin alot pada tahun depan, Sarwoto meramalkan bisa saja terjadi konsolidasi lagi antar- perusahaan telekomunikasi. seperti tahun ini. Siapa yang menyusul Mobile-8 dan Smart? Wallahualam.

Persaingan nan ketat membuat seluruh pemain pasang kuda-kuda. Perusahaan besar seperti PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) belum lama ini mulai melakukan transformasi bisnis. Bila sebelumnya hanya sebagai perusahaan informasi dan komunikasi, Telkom kini menjajal bisnis telekomunikasi, informasi, media dan edutainment (TIME).

Selain karena persaingan bisnis, VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengatakan, perubahan ini untuk mengantisipasi regulasi yang lebih pro ke pasar. “Selain itu untuk mengikuti perkembangan teknologi dan gaya hidup,” kata Eddy.

Nah, bagaimana langkah para operator seluler tahun depan, berikut ulasan ala KONTAN.

Telkomsel

Per kuartal III 2009, Telkomsel menyumbangkan pendapatan terbesar kepada sang induk, PT Telkom. Anak blasteran hasil perkawinan Telkom dan SingTel ini menyumbangkan pendapatan sebesar 15,1% dari total pendapatan Telkom atau Rp 2,75 triliun.

Tak heran apabila PT Telkom memberikan jatah belanja modal yang besar bagi anak kesayangannya itu. Dari total belanja modal sebesar Rp 20 triliun, Telkom berencana menganggarkan belanja modal sebesar Rp 12 triliun bagi Telkomsel untuk tahun depan.

Dana belanja modal ini untuk pembangunan jaringan infrastruktur pendukung telekomunikasi seperti base transceiver station (BTS) dan platform jaringan berupa kabel. Telkomsel juga berniat meningkatkan bisnis layanan internet. Maklum, bisnis tersebut masih sangat menguntungkan.

Perusahaan telekomunikasi seluler terbesar ini sedang menyiapkan platform yang memberikan akses yang besar bagi pelanggan. Namanya, long term evolution (LTE). Dengan platform ini, Telkomsel bisa memberikan pelayanan data hingga 150 megabyte per second (Mbps). “Tahun depan kami sudah uji coba,” kata Sarwoto yang juga Direktur Utama Telkomsel ini.

Telkomsel tentu saja terus berupaya menggenjot pelanggan selulernya, yang telah mencapai 82 juta. “Sepanjang tahun 2009 ini pelanggan tumbuh 15 juta lebih. Dengan tren pertumbuhan ini, kami yakin target 10023juta pelanggan di 2010 bisa tercapai,” ujar Vice President Telkomsel Area II Irwin Sakti.

XL Axiata

Per September 2009, XL mengantongi laba bersih sebesar Rp 1,2 triliun alias tumbuh 34,85% dibandingkan dengan periode yang sama 2008 lalu. Ke depan, XL akan membidik pasar Asia. Pemegang saham mayoritas XL, Axiata Group telah menyiapkan investasi baru agar bisa masuk ke 10 negara di Asia Tenggara dan sekitarnya.

Menurut Febriati, XL sudah menyiapkan sambungan langsung ke luar negeri melalui Singapura, Malaysia, dan Hong Kong serta beberapa negara lainnya. XL juga berusaha meningkatkan akses komunikasi data dengan teknologi serat optik bagi pelanggan korporasi. Pihaknya juga menyediakan layanan mobile broadband dengan kecepatan data hingga 21 Mbps di area tertentu. “Terutama untuk yang memiliki permintaan yang tinggi,” kata dia.

Soal tarif data, Febriati memprediksikan kemungkinan bakal turun. Hal ini karena kerjasama para operator sudah mulai kondusif. Kehadiran Wimax justru membuka peluang usaha bagi XL. Pasalnya, XL bisa menawarkan XL jaringan serat optiknya sebagai interkoneksi.

Indosat

Selama sembilan bulan pertama tahun ini, jumlah pelanggan Indosat merosot 25% hingga menjadi 28,7 juta. Kendati demikian, Indosat mengaku penurunan jumlah pelanggan tidak memberikan dampak yang signifikan.

Buktinya, sampai sekarang Indosat masih bisa memperoleh laba bersih sebesar Rp 1,45 triliun per kuartal III 2009 ini. Angka ini hanya turun sedikit dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Menghadapi persaingan yang semakin tajam, Indosat akan berinovasi dalam tarif, teknologi, dan pelayanan. Untuk tarif, Indosat tak lagi mengumbar tarif gratis. Chief Marketing Officer Indosat Guntur S. Siboro mengatakan, pihaknya akan memberikan tarif khusus bagi sesama pengguna Indosat.

Smart Telecom

Operator CDMA bakal sibuk menggenjot aksesibilitas pelanggan melalui broadband pada tahun depan. Ini lantaran peningkatan trafik data Smart lebih cepat ketimbang konsumsi suara (voice).

Smart menargetkan bisa menggarap pasar data di 32 kota seiring dengan penambahan 200 BTS pada tahun depan. Tahun ini, Smart sudah berekspansi ke kota-kota di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Direktur Regulasi Smart Ubaidillah Fatah bilang, pihaknya akan menyasar pasar di Manado, Makassar, Padang, dan sebagian kota di Kalimantan untuk tahap selanjutnya.

Smart juga akan berkolaborasi dengan Fren. Fatah mengatakan keduanya akan fokus dalam pembenahan infrastruktur dan membenahi manajemen pemasaran. “Kami kerjasama roaming domestik, pemasaran, dan sebagainya,” katanya.

Ponsel Qwerty Tetap Teratas

Telepon seluler dengan keyboard qwerty dan layar lebar berjaya tahun ini. Meningkatnya penjualan ini tak lepas dari pengaruh situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter serta mewabahnya demam BlackBerry.

Para produsen yakin, ponsel qwerty dan layar lebar tetap menjadi juara hingga tahun depan. Herbert Tobing, Direktur Pengembangan Bisnis PT Metrotech Jaya Komunikasi, distributor resmi Nexian, beralasan konsumen membutuhkan tombol yang mudah untuk mengetik.

Tak heran bila para produsen mematok angka penjualan yang tinggi untuk ponsel qwerty tahun depan. PT Samsung Electronics Indonesia menargetkan bisa menjual 100.000 unit per bulan. Agar bisa mencapai target tersebut, perusahaan asal Korea Selatan ini giat berinovasi, menjaga kualitas, dan mendengar permintaan pasar. “Kami menjawabnya dengan beragam pilihan yang terbaik bagi konsumen,” kata Romeo Michael Vau, Manajer Produk Divisi Handheld PT Samsung Electronics Indonesia.

Penjualan ponsel yang mirip BlackBerry ini juga semakin marak dengan kerjasama dengan operator telepon seluler. Juru bicara XL Axiata Febriati Nadira meramalkan, produsen ponsel besar akan mencoba bangkit pada tahun depan setelah tahun ini “dihajar” oleh produsen dari China dan Korea Selatan. Menurutnya, para produsen tersebut akan lebih agresif menawarkan paket bundling dengan aplikasi yang tak hanya sekadar Facebook dan chatting.

Sumber:
Dian Pitaloka Saraswati, Edy Can, Ahmad Febrian
kontan.co.id

1 Comment

  1. ardhan says:

    setuju dengan tanpa perang tarif

Leave a Reply

© 2010 Pinginpintar.com · Subscribe:PostsComments ·

Wordpress Seo Plugin